24 May 2015

Let's To Be Positif People


Salam semangat berbagi,

Mari kita tonton sejenak film pendek yang sangat menginspirasi ini. :)




Wow, tertegun bukan hati kita setelah menontonnya? Betapa merindukannya kita berada hidup berdampingan bersama orang-orang di lingkungan positif tersebut. Indahnya dunia ini apabila kita masih memiliki pemikiran positif dan hati yang peka terhadap lingkungan.

Saat ini kita mungkin sulit menemukan pionir-pionir pergerakan positif, memang tidak ada pula yang sempurna "not almost perfect" namun kita bisa memulai paling tidak kita dapat berharap dan bertindak melakuan 1 perbuatan positif untuk 10 perubahan yang lebih besar. Tentunya buah dari perbuatan positif pasti akan berbuah lebih banyak lagi kebaikan. 

Memulailah dari hal kecil "membantu tanpa butuh alasan" agar menjadi hal besar yang luar biasa. Membangunkan kembali iklim tersebut yang sudah mulai luntur di Indonesia. Mari kita pupuk kembali. Yakinlah dengan bersama-sama kita dapat menumbuhkan lingkungan yang positif disekeliling kita. Ingat! Manusia ideal itu bukan hanya yang tinggi IQ atau SQ nya saja, tanpa EQ yang sempurna manusia itu dapat disamakan seperti hewan bahkan setan/iblis.  Semoga bermanfaat. :)



02 May 2015

Lima Bahasa Kasih


Salam semangat berbagi,
Kali ini agar tidak menjenuhkan, informasi aku sediakan dalam bentuk video mengenai 5 bahasa kasih intisari dari buku Gary Chapman (2004). Semoga bermanfaat. 

09 March 2015

Teori Perkembangan Manusia. Sudah tahu?? Kepo itu penting!




Salam Semangat Berbagi,

     Sudah mengetahui kah kamu?. Manusia memiliki tahap rentang perkembangan kehidupan dengan metode yang beragam. Teori-teori perkembangan yang terkenal ini lahir dari Barat yang tentunya tidak seutuhnya dapat digunakan dengan ideologi Timur seperti Indonesia yang notaben negaranya sangat multikultural. Namun perspektif teori ini bisa digunakan apabila sudah disesuaikan dengan konsep multikultur untuk beberapa acuan standart program pendidikan, program kesehatan dsb. Teori-teori ini juga berguna untuk menambah wawasan orang tua dalam pola pendidikan anak. Berikut di bawah ini beberapa teori tahap perkembangan.


Tahapan Perkembangan Kognitif Menurut Piaget
Periode
Usia
Deskripsi Perkembangan
Sensorimotor
0-2th
Pengetahuan anak diperoleh melalui interaksi fisik, baik dengan orang atau objek (benda). Secara gradual bayi mulai dapat mengorganisir aktivitas yang berhubungan dengan lingkungan melalui aktivitas sensoris dan motorik. Skema-skemanya baru berbentuk refleks-refleks sederhana seperti menggenggam atau menghisap.
Praoperasional
2-6th
Anak mulai menggunakan simbol-simbol untuk merepresentasi dunia (lingkungan) secara kognitif. Simbol-simbol itu seperti: kata-kata dan bilangan yang dapat menggantikan objek, peristiwa dan kegiatan (tingkah laku yang tampak).
Bahasa dan imaji memainkan peran manifestasi penting tahap ini.
Pemikiran masih belum logis.
Operasi Konkret
6-11th
Anak sudah dapat membentuk operasi-operasi mental atas pengetahuan yang mereka miliki. Mereka dapat menambah, mengurangi dan mengubah. Operasi ini memungkinkannya untuk dapat memecahkan masalah secara logis, jika mereka difokuskan kepada situasi saat itu, tetapi tidak dapat berpikir abstrak.
Operasi Formal
11th-dewasa
Periode ini merupakan operasi mental tingkat tinggi. Disini anak (remaja) sudah dapat berhubungan dengan peristiwa-peristiwa hipotesis atau abstrak, tidak hanya dengan objek-objek konkret. Remaja sudah dapat berpikir abstrak dan memecahkan masalah melalui pengujian semua alternatif yang ada.

(Yusuf, 2012). 

     Menurut Piaget perubahan kualitatif dalam pemikiran terjadi antara masa bayi hingga masa remaja. Manusia adalah inisiator perkembangan aktif. Teknik yang digunakan Piaget dalam penelitiannya adalah wawancara fleksible, observasi mendetail yang penekanan kausalnya berdasarkan interaksi antara faktor pengalaman dan pembawaan. Perspektif yang dikembangkan Piaget adalah Kognitif.

Tahapan Perkembangan Psikoseksual Menurut Sigmund Freud
Tahap Perkembangan
Usia
Deskripsi
Oral
Lahir sampai 12-18 bulan
Sumber kenikmatan utama bayi melibatkan aktivitas berorientasi mulut (menghisap dan menelan).
Anal
12-18 bulan sampai 3 tahun
Anak mendapatkan kepuasan sensual dengan menahan atau melepaskan faces. Zona kepuasannya adalah daerah anal, dan toilet training merupakan aktivitas  penting.
Phallic
3 tahun sampai 6 tahun
Anak menjadi lengket dengan orang tua dari jenis kelamin yang berlainan dan kemudian mengidentifikasikanya dengan orang tua berjenis kelamin sama. Super ego berkembang. Zona kepuasannya bergeser ke arah genital.
Latency
6 tahun hingga pubertas
Masa yang relatif tenang di antara tahapan-tahapan yang lebih bergelora.
Genital
Pubertas sampai dewasa
Kemunculan kembali dorongan seksual tahap phallic, disalurkan kepada kematangan seksualitas masa dewasa.

(Papalia,.et all,2010). 

     Menurut Freud perilaku dikontrol oleh dorongan tidak sadar yang luar biasa. Teknik yang digunakan Freud dalam penelitiannya adalah observasi klinis yang penekanan kausalnya berdasarkan interaksi antara faktor bawaan yang dimodifikasi oleh pengalaman individu. Perspektif yang dikembangkan Freud adalah Psikoanalitik. Konsep yang terkenal dari Freud adalah gambaran gunung es mengenai Id, Ego dan Super Ego yang dimiliki semua orang. Selain itu konsep penting 6 tahun pertama kelahirannya.



Periode Umur
Perkembangan inti dalam 8 Periode Rentang Kehidupan (Erik Erikson)
Perkembangan Fisik
Perkembangan Kognitif
Perkembangan Psikososial
Periode pralahir
(12-18 bulan)
Kehamilan terjadi.
Dari awal, bakat genetik berinteraksi dengan pengaruh lingkungan.
Struktur fisik dasar dan organ dibentuk.
Pertumbuhan otak dimulai.
Pertumbuhan fisik yang terjadi pada masa ini paling cepat sepanjang rentang kehidupan.
Kerentanan terhadap pengaruh lingkungan sangat besar.
Kemampuan untuk belajar, mengingat dan merespons terhadap stimuli sensoris mulai berkembang.
Kepercayaan dasar vs Ketidakpercayaan.
Bayi mengembangkan perasaan bahwa dunia merupakan tempat yang baik dan aman.
Hikmah: harapan.
Janin merespon kepada suara ibu dan mengembalikan rasa suka kepada suara tersebut.
Bayi dan batita (12-18bulan hingga 3th)
Semua sensor dan sistem tubuh berfungsi saat lahir dengan tingkatan yang beragam.
Otak tumbuh dalam hal kompleksitas dan sangat sensitif terhadap pengaruh lingkungan.
Pertumbuhan fisik dan perkembangan keterampilan motorik sangat tinggi.
Pada minggu pertama, kemampuan untuk belajar dan mengingat telah ada.
Penggunaan simbol dan kemampuan untuk memecahkan masalah dikembangkan pada akhir tahun kedua.
Pemahaman dan penggunaan bahasa berkembang dengan cepat.
Autonomi vs Rasa malu dan ragu.
Anak mengembangkan keseimbanga independen dan kepuasan diri terhadap rasa malu dan keraguan.
Hikmah:kehendak.
Keterikatan kepada orang tua dan orang lain terbentuk.
Kesadaran diri terbentuk.
Peralihan dari ketergantungan kepada otonomi terjadi.
Ketertarikan kepada anak-anak lain meningkat.
Masa kanak-kanak awal (3-6th)
Pertumbuhan berlangsung dengan kecepatan stabil, penampilan menjadi lebih langsing dan proposinya makin menyerupai orang dewasa.
Selera makan menghilang, dan kesulitan tidur adalah hal yang biasa muncul pada masa ini.
Keterampilan tangan mulai tampak, keterampilan motorik yang halus dan mendasar semakin menguat.
Pemikirannya hingga pada tahap tertentu masih bersifat egosentris, akan tetapi pemahamannya terhadap perspektif orang lain semakin meningkat.
Ketidakmatangan kognitif mengarah kepada ide tidak logis tentang dunia.
Ingatan dan bahasa meningkat.
Kecerdasan menjadi lebih mudah diprediksi.
Masuk pre-school adalah hal biasa, terlebih lagi taman kanak-kanak.
Inisiatif vs Rasa bersalah.
Anak mengembangkan inisiatif ketika mencoba aktivitas baru dan tidak terlalu terbebani rasa bersalah.
Hikmah:tujuan.
Konsep diri dan pemahaman terhadap emosi tumbuh, penghargaan terhadap diri adalah suatu hal yang global.
Meningkatnya inisiatif, independen, kontrol diri.
Identitas gender dibangun.
Permainan menjadi lebih imajinatif, elaboratif, dan lebih sosial.
Kebersamaan, agresi, dan rasa takut merupakan hal yang biasa muncul.
Masa kanak-kanak (6-11th)
Pertumbuhan melambat.
Kekuatan dan keterampilan atletis meningkat.
Sakit saluran pernafasan adalah hal yang biasa terjadi, akan tetapi secara umum tingkat kesehatannya terbaik dibandingkan dengan periode umur yang lain.
Egosentrisme menghilang, anak mulai berpikir logis namun konkret.
Meningkatnya kemampuan daya ingat dan keterampilan berbahasa.
Keunggulan kognitif memungkinkan anak mendapat keuntungan dari sekolah formal.
Industri vs Inferioritas.
Anak harus belajar ketermapilan budaya atau menghadapi perasaan tidak kompeten.
Hikmah:keterampilan.
Konsep diri menjadi lebih kompleks, dan mempengaruhi kepercayaan diri. Pengaturan bersama/koregulasi merefleksikan perubahan gradual dalam kontrol dari orang tua kepada anak.
Teman sebaya menjadi sesuatu yang penting.
Masa remaja   (11-20th)
Pertumbuhan fisik dan perubahan lainnya berlangsung cepat dan sangat intens.
Terjadinya kematangan organ reproduksi.
Resiko kesehatan utama bersumber dari isu perilaku, seperti penyimpangan pola makan dan penyalahgunaan obat.
Berkembangnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak dan menggunakan alasan ilmiah.
Pemikiran yang kurang dewasa terus berlangsung dalam sikap dan perilaku tertentu.
Pendidikan difokuskan kepada persiapan memasuki universitas atau berkerja.
Identitas vs Kekacauan identitas.
Remaja harus menentukan pemahaman akan diri sendiri atau merasakan kekacauan peran.
Hikmah:loyalitas/dapat dipercaya.
Pencarian terhadap identitas, termasuk identitas seksual, menjdai isu sentral.
Secara umum hubungan dengan orang tua berlangsung baik.
Kelompok sebaya membantu mengembangkan dan menguji konsep diri tetapi juga dapat menimbulkan pengaruh antisosial.
Masa dewasa awal   (20-40th)
Kondisi fisik mencapai puncak, untuk kemudian secara perlahan menurun.
Pilihan gaya hidup mempengaruhi kesehatan.
Kemampuan kognitif dan penilaian moral diasumsikan lebih kompleks.
Pilihan pendidikan dan karier dibuat.
Intimasi vs Isolasi.
Mencoba membuat komitmen dengan orang lain, apabila tidak sukses maka dia akan menderita isolasi dan pemisahan diri.
Hikmah:cinta.
Sifat dan gaya kepribadian relatif stabil, akan tetapi perubahan dalam kepribadian mungkin terjadi akibat umur dan peristiwa hidup.
Keputusan tentang hubungan yang lebih intim dan gaya hidup personal dibuat.
Sebagian besar orang menikah, dan sebagian besar menjadi orang tua.
Masa dewasa tengah (40-65th)
Beberapa penurunan sensoris, kesehatan, stamina, dan keterampilan mulai terjadi.
Wanita akan mengalami menopause.
Sebagian besar kemampuan mental dasar melemah, kepakaran dan kepraktisan pemecahan masalah meningkat.
Keluaran kreatif mungkin menurun akan tetapi terjadi peningkatan kualitasnya.
Bagi sebagian orang, kesuksesan karier dan pemasukan mencapai puncaknya. Namun bagi yang lainpenderitaan memuncak dan perubahan karier mungkin saja terjadi.
Produktivitas vs Stagnasi.
Perhatian orang dewasa yang sudah matang adalah membangun dan membimbing generasi selanjutnya atau merasa tidak percaya diri.
Himah:rasa peduli.
Rasa identitas terus berkembang, stres transisi paruh baya dapat terjadi pada saat ini.
Tanggung jawab ganda, mengasuhanak dan orang tua, dapat menimbulkan stres.
Perginya anak telah meninggalkan “sarang yang kosong”.
Masa dewasa akhir   (65th-seterusnya)
Sebagian besar orang berada dalam kondisi sehat dan aktif, walaupun kesehatan dan kemampuan fisik menurun hingga tingkat tertentu.
Keterlambatan dalam waktu bereaksi akan mempengaruhi beberapa aspek fungsi.
Sebagian besar orang diusia ini waspada secara mental.
Walaupun kecerdasan dan daya ingat mungkin menurun di beberapa area, akan tetapi sebagian besar orang menemukan jalan untuk mengkompensasinya.
Integritas ego vs Putus asa.
Individu yang lebih tua mendapatkan penerimaan terhadap hidup, membuatnya dapat menerima kematian, atau sebaliknya, putus asa atas ketidakmampuannya menghidupkan kembali hidupnya.
Hikmah:kebijaksanaan.
Pensiun dari pekerjaan mungkin menawarkan pilihan baru dalam memanfaatkan waktu.
Harus menghadapi kehilangan personal dan kematian.
Hubungan dengan keluarga dan teman dekat dapat memberikan dukungan yang penting.
Pencarian terhadap makna hidup menjadi sangat penting.

(Papalia,.et all,2010).  





     Menurut Erikson kepribadian dipengaruhi oleh masyarakat dan dibangun melalui serangkaian krisis atau alternatif-alternatif kritikal. Teknik yang digunakan Erikson dalam penelitiannya adalah observasi klinis yang penekanan kausalnya berdasarkan interaksi antara faktor bawaan dan pengalaman individu. Perspektif yang dikembangkan Erikson adalah Psikoanalitik.

Masih banyak teori perkembangan lainnya yang tidak sabar penulis akan posting pada tulisan berikutnya. Semoga bermanfaat untuk menambah wawasan pembaca ebbellablog. 
#Kepo itu penting!!


Daftar Pustaka :

Papalia.Old.Feldman (2010). Human Development. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.

Yusuf, Syamsu (2012). Psikologi Perkembangan Dan Remaja. Bandung : Remaja Rosdakarya 

27 February 2015

Gaya Pola Asuh Orangtua. (Parenting style)

Salam semangat berbagi,

Sering kita mendengar bahwa belum ada sekolahnya bagaimana untuk menjadi pengasuhan orangtua (parenting) yang baik dan benar. Ilmu belajar parenting hanya bersumber dari orangtua turun temurun, dengan orangtua sudah banyak makan asem garam terkadang orangtua kita sendirilah yang instan menjadi bahan percontohan. Tentu kurangnya persiapan mental, wawasan dan psikologis terkadang menjadi alasan utama percontohan instan itu terjadi tanpa menelaah dan mengkaji kembali bagaimana hasilnya kita dahulu dalam posisi sebagai anak? apakah yang kita rasakan? Seperti apa?. Tentunya semua percontohan instan itu tidak semuanya benar betul, perlu bekal ilmu pengetahuan, wawasan, kesiapan psikologis dan mental untuk menjadi orangtua yang baik.

Pada jenjang pendidikan formal, ada beberapa ahli yang meneliti dan mempelajari macam-macam gaya pola pengasuhan orangtua. Riset pertama kali dilakukan mengenai pola pengasuhan oleh Diana Baumrind pada tahun 1966 dan terus mengalami perkembangan riset hingga kini. Hasil riset Baumrind mengidentifikasikan bahwa ada tiga macam gaya pengasuhan orang tua, dan mendeskripsikan pola umum perilaku anak yang muncul dari gaya pengasuhan tersebut. Adapun teori Baumrind dalam Papalia (2008:395)  dijelaskan sebagai berikut:

·   Pola asuh otoritarian adalah gaya pengasuhan yang menekankan kontrol dan kepatuhan, yaitu:
1.  Memandang penting kontrol.
2.  Menuntut kepatuhan tanpa syarat.
3.  Membuat anak menyesuaikan diri dengan serangkaian standart perilaku.
4.  Menghukum secara membabi buta dengan keras atas pelanggaran yang dibuat.
5.  Orang tua bersikap berkuasa dan kurang hangat.
6. Anak pola pengasuhan ini cenderung menarik diri, sulit percaya kepada orang lain dan lebih tidak puas.
·   Pola asuh permisif adalah gaya pengasuhan yang menekankan ekspresi diri dan regulasi diri, yaitu:
1.  Menghargai ekspresi diri dan regulasi diri.
2. Membuat beberapa tuntutan, namun mengizinkan anak untuk memonitor aktivitasnya sendiri.
3.  Jika membuat peraturan maka akan ada penjelasan alasannya kepada anak-anak mereka.
4.  Berkonsultasi dengan anak mengenai keputusan kebijakan.
5.  Jarang menghukum.
6.  Orang tua bersikap hangat, tidak mengontrol, dan tidak menuntut.
7.  Anak pola pengasuhan ini cenderung menjadi tidak dewasa, sangat kurang kontrol diri dan kurang eksplorasi.
·     Pola asuh autoritatif adalah gaya pengasuhan yang memadukan penghargaan terhadap induvidualitas anak dengan upaya membentuk nilai sosial secara perlahan, yaitu:
1.   Menghargai induvidualitas anak.
2.   Menentukan batasan sosial.
3.  Memiliki keyakinan diri akan kemampuan membimbing anak, tetapi tetap menghormati independensi keputusan, ketertarikan, pendapat dan kepribadian anak.
4.    Mencintai dan menerima, tetapi menuntut perilaku yang baik.
5.    Kokoh dalam mempertahankan standar.
6.  Memiliki keinginan untuk menjatuhkan hukuman yang bijaksana dan terbatas ketika memang hal tersebut dibutuhkan.
7.     Orang tua bersikap hangat dan suportif
8.      Selalu menjelaskan logika di balik tindakan orang tua.
9.      Berdiskusi dengan anak.
10.  Anak merasa aman ketika mengetahui bahwa mereka dicintai dan dibimbing secara hangat.
11.  Anak dalam pengasuhan ini cenderung independen, terkontrol, asertif, eksploratoris dan berisi.

Tiga pola pengasuhan ini sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan pendidikan formal juga menerapkan dalam keseharian kegiatan belajar mengajarnya. Namun peran orang tua disini digantikan oleh guru atau orang tua disekolah lainya. Eleanor Maccoby dan John Martin dalam Papalia (2008:396) menambahkan satu jenis pola asuh lagi dengan pola asuh acuh atau penelantar (uninvolved).  Uninvolved mengandung undemanding dan unresponsive.  Dicirikan sebagai berikut:
1.     Orang tua yang bersikap mengabaikan
2.     Lebih mengutamakan kebutuhan dan keinginan orang tua daripada kebutuhan dan keinginan anak,
3.     Tidak adanya tuntutan, larangan ataupun komunikasi terbuka antara orang tua dan anak.
Dalam Prasetya (2003:31) diterangkan bahwa:

“Pola pengasuhan penelantar bukan berarti hanya menelantarkan anak secara fisik atau nutrisial tetapi juga berarti penelantaran anak dalam kaitan psikis. Bisa jadi secara fisik anak sama sekali tidak terlantar, nutrisial, papan, perangkat keras pemeliharaan anak sangat mencukupi, tetapi secara psikis anak terlantar atau merasa ditelantarkan. Orang tua atau pengasuh kurang atau bahkan sama sekali tidak mempedulikan perkembangan psikis anak. Anak dibiarkan berkembang sendiri. Pola pengasuhan ini umumnya diterapkan oleh orang tua yang sebenarnya menolak kehadiran anak dengan berbagai macam alasan. Terkadang tidak disadari atau tidak diakuinya secara jujur. Selanjutnya tidak terjadi perubahan sikap ketika anaknya lahir. Pada pola pengasuhan penelantar, orang tua lebih memprioritaskan kepentingannya sendiri daripada kepentingan anak.”

Pola pengasuhan penelantar ini lebih tepat untuk mendeskripsikan orang tua yang terkadang stres atau depresi. Bisa juga orang tua yang memiliki traumatik berbagai penyimpangan perilaku di masa anak-anak atau remajanya dulu. Menurut Hurlock, Schneiders, dan Loree yang dikutip oleh Syamsu Yusuf (2011:48-50) menyebutkan ada beberapa pola sikap atau perlakuan orang tua terhadap anaknya dapat mempengaruhi kepribadian anak tersebut. Pola asuh yang dimaksud adalah pola asuh yang terlalu melindungi, memperbolehkan, menerima, mendominasi, menyerahkan dan terlalu disiplin. Adapun penjelasannya sebagai berikut:

1.  Terlalu melindungi (Overprotective), perilaku orang tua seperti: kontak yang berlebihan dengan anak, perawatan/pemberian bantuan kepada anak terus menerus, meskipun anak sudah mampu merawat dirinya sendiri, mengawasi kegiatan anak secara berlebihan, memecahkan masalah anak.
2. Pembolehan (Permisisiveness), perilaku orang tua seperti: memberikan kebebasan kepada anak untuk berpikir atau berusaha, menerima gagasan atau pendapat, membuat anak merasa diterima atau kuat, toleran dan menerima kelebihan anak, cenderung lebih suka memberi yang diminta anak daripada menerima.
3.  Penolakan (Rejection), perilaku orang tua seperti: bersikap masa bodoh, bersikap kaku, kurang memperdulikan kesejahteraan anak, menampilkan sikap permusuhan atau dominasi anak.
4. Penerimaan (Acceptance), perilaku orang tua seperti: memberikan perhatian dan cinta kasih yang tulus kepada anak, mendorong anak untuk menyatakan perasaan atau pendapatnya, menempatkan anak dalam posisi yang penting di rumah, mengembangkan hubungan yang hangat dengan anak di rumah, bersikap respek terhadap anak, berkomunikasi dengan anak secara terbuka dan mau mendengarkan masalahnya.
5.  Dominasi (Domination), perilaku orang tua seperti: mendominasi anak.
6. Penyerah (Submission), perilaku orang tua seperti: senantiasa memberikan sesuatu yang diminta anak, membiarkan anak berperilaku semaunya di rumah.
7.Terlalu disiplin (Punitiveness/Overdicipline), perilaku orang tua seperti: mudah memberikan hukuman, menanamkan kedisiplinan yang keras.

Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam pengaplikasian penerapan transfer ilmu, kasih sayang, bimbingan, perhatian setiap orang tua memang memiliki pola pengasuhan yang berbeda. Bagi orang tua yang sudah mengetahui macam-macam gaya pola pengasuhan hendaknya lebih teliti dan memilah-milah kembali model pengasuhan yang tepat dan terbaik untuk masa depan anaknya kelak. Karena pola pengasuhan bisa bersifat baik dan efektif, tapi juga bisa sebaliknya. Maka orang tua hendaknya tidak hanya berpedoman pada satu tipe pola pengasuhan saja. Sebab ketika bertemu pada satu permasalahan yang tidak bisa diselesaikan dengan tipe satu maka hendaknya menggunakan tipe yang lain, dengan begitu masalah akan terselesaikan dengan bijaksana.


Sumber :

Papalia.Old.Feldman (2008). Human Development. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.
Prasetya, G.Tembong (2003). Pola Pengasuhan Ideal. Jakarta : PT. Alex Media Komputindo.
Yusuf, Syamsu (2011). Psikologi Perkembangan Dan Remaja. Bandung : Remaja Rosdakarya.